Sabtu, 07 Januari 2012

Teori yang harus segera dibuktikan

Semoga tulisan ini bisa bermanfaat terutama bagi diri saya sendiri. Semoga...

Sangat benar bahwa segala kebaikan akan kembali kepada asal pemberinya. Orang baik akan mendapatkan buah dari kebaikannya. Maka berbuat baiklah ke semua orang.

Berbuat baiklah kepada keluarga, kepada tetangga, kepada atasan, kepada bawahan, kepada orang-orang yang tidak dikenal, bahkan berbuat baiklah kepada musuhmu.

Tolonglah jika mereka meminta tolong. Jagalah lisan dan perbuatan agar tidak menyakiti hati mereka. Cegahlah mereka dari perbuatan yang tidak baik dengan nasihat yang bijak.    

Jangan berhenti di teori, namun buktikanlah! Sekali lagi, buktikanlah! Sehingga datang keyakinan yang sempurna bahwa tiada balasan dari kebaikan kecuali kebaikan.

Senin, 26 Desember 2011

Kata ikhlas itu seharusnya indah

Lagi lagi orang kecil yang harus ikhlas. Aduh, maksud saya bukan mengeluh seperti itu.

Kata ikhlas itu bermakna sangat mulia. Sungguh, hanya orang-orang yang ikhlas saja yang tidak mampu dikalahkan oleh setan. Maka ketika saya mengetik kalimat di atas "Lagi lagi orang kecil yang harus ikhlas", bukan berarti orang kecil tidak boleh ikhlas.

Wajar, bahkan baik, jika sebuah perusahaan menuntut karyawannya untuk ikhlas dalam bekerja. Namun aneh bahkan zolim jika sebuah perusahaan menuntut karyawannya untuk ikhlas dalam menerima upah di bawah yang semestinya.

Bahkan menurut saya, kata "ikhlas dalam bekerja" yang dimaknai sebagai bekerja dengan maksimal dengan tidak terlalu memikirkan upahnya adalah tidak tepat. Ikhlas dalam bekerja itu adalah profesional. Karena Islam itu profesional.  

Saya tidak mau panjang lebar dalam hal ini. Singkatnya, mudah-mudahan karyawan ikhlas dalam bekerja, dan perusahaan pun ikhlas dalam mensejahterakan karyawannya :)

Harapan itu harus selalu ada

Begitu banyak orang-orang yang mencari keuntungan di dalam penderitaan orang lain. Di saat ada orang yang mengalami kecelakaan, bukan membantunya namun justru mengambil dompetnya.

Sekarang ini lagi trendnya program televisi yang memanfaatkan kemiskinan orang untuk meningkatkan rating. Jika niatnya sekedar menaikkan rating, maka saya katakan mereka buruk! Dan begitulah. Kesempatan dalam kesempitan sering dimaknai negatif.

Saya akan mencoba merubah makna "Kesempatan dalam kesempitan" menjadi sesuatu yang positif. Dan saya rasa kita sepakat, jika subjek dan objeknya berbeda, maknanya menjadi negatif. Namun apabila subjek dan objeknya sama, maka maknanya akan positif. Now, take a look:

Jika seseorang mencari kesempatan dalam kesempitan yang menghimpitnya, berarti ia telah melakukan sesuatu yang positif. Ia tetap mencari jalan keluar dari kesulitan yang menimpanya. Ia tidak berputus asa. Keren kan?

Saya jadi ingat salah satu film favorit saya, Pursuit of Happyness. Salah satu pesannya adalah, "pintar-pintarlah untuk mencari celah di dalam kesulitan yang menghimpit." Maka bagi kalian yang sedang mengalami kesulitan, carilah celah-celah itu :)  


Jumat, 09 Desember 2011

Rakyat Perwakilan Dewan

Orang-orang DPR belakangan banyak disoroti masyarakat. Yang terakhir tentang gaya hidup yang borjuis. Saya tidak tahu apakah ini pengalihan isu dari permasalahan yang lebih penting atau apa.

Jika bicara gaya hidup, maka sudut pandang tiap orang akan berbeda. Oleh karenanya, saya tidak mau menghakimi terlalu jauh gaya hidup mereka. Karena, gaya hidup saya pun tidak bisa dibilang sederhana jika dilihat dari pemasukan yang saya terima hehe. 
 
Dari kisah kehedonisan orang-orang DPR ini, lalu saya mencari tahu, barangkali ada yang agak berbeda. Saya ketik di google "Anggota DPR sederhana". Alhamdulillah, ternyata masih ada. Saya temukan di blog seseorang: http://bumi-tuntungan.blogspot.com/2011/01/anggota-dpr-yang-sederhana.html.

Saya doakan bagi yang hidup sederhana, semoga mendapat kebahagiaan dalam kesederhanaannya :)

Rabu, 07 Desember 2011

Film politik tidak lagi menarik (bagi saya)

Mengikuti perkembangan politik tanah air melalui TV memang menarik. Namun belakangan, dalam pandangan saya, daya tarik acara-acara tersebut menurun drastis. Jika difilmkan pun, saya kira ratingnya akan buruk disebabkan hal-hal sebagai berikut:

Yang pertama, temanya tidak jelas. Sebagai penonton, saya tidak mengerti apa yang sedang diceritakan. Padahal sebagai masyarakat, saya inginnya menonton pertunjukkan yang sederhana jalan ceritanya. Ada kejahatan, tangkap penjahatnya, hukum, dan jagoannya menang. That's all!   

Kedua, aktor dan aktrisnya tidak berakting dengan baik. Saya kira masih kalah dengan aktor dan aktris kawakan tahun 80-90an. Yah, ini mungkin karena para aktor dan aktris yang baru ini merasa mereka sudah cukup cakap dalam berakting. 

Ketiga, terlalu banyak peran pengganti. Jika mau maksimal dalam berakting, seharusnya ketika adegan terjatuh, ia benar-benar orang yang terjatuh. Tidak lantas menggantinya sehingga peran pengganti yang terjatuh. 

Keempat, durasinya terlalu panjang.  Terlalu berbelit-belit ceritanya. Dan tidak kunjung usai. Padahal penonton punya kesibukan lain.

Dan kelima, endingnya tidak jelas. Saya sebenarnya tidak tahu apakah sudah selesai atau memang masih bersambung.  

Oleh karenanya, saya mengurangi porsi menonton program-program yang menayangkan 'film politik' tersebut. Saya bersyukur masih ada program-program yang menurut saya masih baik. Saya biasa menonton Kick Andy, Wisata Hati Yusuf Mansyur, Golden Ways Mario Teguh, Just Alvin, dan Jejak Petualang.



Selasa, 22 November 2011

Nasihat itu seharusnya indah

Seorang ibu yang baru saja menjadi korban perampokan melapor ke seorang polisi yang sedang melintas.
"Pak, saya baru saja dirampok. Semua barang berharga saya diambil. Mereka menodongkan pisau ke saya pak." kata ibu itu dengan lemah.

"Apa? Hilang?!! Sabar ya bu.. Ibu harus tetap bersyukur kalau ibu tidak ditusuk mereka. InsyaAllah nanti akan Allah ganti dengan yang lebih baik. Rejeki tidak akan tertukar." Begitulah bapak polisi itu menenangkan. Lalu polisi itu pergi dengan mengucap salam.

Di lain tempat dan waktu, ada seorang suami yang baru saja menjadi korban perampokan. Setelah sampai rumah, ia berkeluh kesah ke istrinya.

"Ayah baru saja terkena musibah."
"Ada apa ayah?" Tanya sang istri.
"Ayah baru saja kerampokan. Dompet dan handphone diambil."
"Innalillahi. Tapi ayah tidak apa-apa kan? Apa ayah sudah lapor polisi?" Tanya sang istri sedikit kaget.
"Sudah, dan kasusnya sedang diurus." Jawab sang suami.
"Ya sudah, insyaAllah rejeki tidak akan tertukar. Ayah sabar ya." ucap sang istri dengan tenang.

Dua kisah tentang seni memberi nasihat.

Saya sangat menyadari bahwa memberi nasihat itu merupakan kebaikan. Namun menurut saya, akan kurang tepat apabila  person dan timenya tidak tepat.

Maka jika ada seorang bawahan mengeluhkan keadaan yang tidak menyenangkan atau tidak adil kepada atasannya, lalu atasannya selalu meminta ia untuk bersabar dan bersyukur, adalah kurang tepat. Apalagi atasan tersebut tidak melakukan bantuan yang konkrit. Maka persislah ia seperti kisah polisi di atas. Terlihat SHOLIH namun tidak tepat. Bukankah seharusnya polisi tersebut bertindak secara profesional?

Tulisan ini saya buat karena melihat beberapa orang yang menggunakan kata kunci sabar dan syukur sebagai sinonim dari kalimat: "Saya tidak mau direpotkan dengan urusan kamu!" MENGENASKAN bukan?

Tapi saya yakin, masih banyak orang yang menggunakan kata sabar dan syukur ini secara tepat. Mudah-mudahan saya termasuk di antara mereka :)

Senin, 21 November 2011

Guru ideal? Memang ada?

"Kamu ngobrol saja! Ini bapak sobek piagam kamu." Setelah melihat piagamnya disobek, diamlah anak kecil itu seribu bahasa. Ia tertunduk di sana, di sebuah kelas sekolah dasar. Padahal piagam itu ia dapat dengan susah payah. Dan tidak ada hubungannya antara piagam itu dengan obrolan anak itu. Dapatlah pelajaran marah yang tidak pada tempatnya siang itu.    

"Ngaku saja kamu! Kalau tidak mengaku, bapak tampar!" Begitulah ancaman dari seorang guru olahraga ke salah satu anak didiknya - seorang anak kelas 7 SMP. Perasaan anak itu sangat kesal. Ia harus mengakui hal yang tidak ia lakukan. Bagaimana bisa guru tersebut menyimpulkan kalau anak didiknya itu merokok lantaran semobil dengan siswa lain yang merokok? Dapatlah murid itu pelajaran 'mengancam'.

Anak itu adalah saya sendiri.

Itu semua adalah contoh buruk approach skill guru kepada muridnya; di luar teaching skill mereka yang juga buruk.

Sejak menginjakkan kaki di Sekolah Dasar sampai SMA, saya belum menemukan guru yang baik dalam teaching skillnya (apalagi approach skillnya) sehingga saya menyimpulkan kalau guru yang ideal itu tidak ada sehingga muridlah yang harus menyesuaikan diri dengan karakter dan gaya mengajar gurunya. Sampai akhirnya, tibalah masa kuliah itu.

Di tempat kuliah, saya menemukan sosok guru ideal yang saya cari-cari itu. Seorang guru yang mampu membuat mahasiswanya serius ketika belajar namun tetap merasa rileks. Seorang guru yang membuat mahasiswanya berpikir positif dan kritis. Seorang guru yang membuat mahasiswanya percaya diri. Seorang guru yang meninggalkan mahasiswanya ketika ujian sambil berpesan, "Saya mungkin tidak mengawasi, tapi Allah mengawasi." dan ajaib, tidak ada mahasiswa yang berbuat curang. Ia seorang guru yang mampu mendekatkan hubungan mahasiswanya dengan penciptaNya. Ia adalah seorang guru yang ketidakhadirannya membuat mahasiswanya kecewa. Ia pun mampu membuat mahasiswa hadir di kelas dan duduk dengan siap menerima ilmu sebelum kuliah dimulai. Benar-benar seorang motivator, yang membuat saya malu jika tidak sukses di kemudian hari. Seorang guru yang selalu memeriksa tugas mahasiswanya dengan teliti dan disertai komentar yang tidak menjatuhkan. Seorang guru yang pernah membuat saya menangis tersedu-sedu ketika ia memberi nasihat di subuh hari itu.

Beliau adalah guru terbaik yang pernah ada dan akan tetap menjadi yang terbaik.
Terima kasih Bapak Prof. Arif Rahman. Semoga Allah membalas kebaikan bapak.













 


(Sumber gambar http://www.mission-indonesia.org)

*Saya ingin yang membaca ini merasa iri karena saya pernah menjadi muridnya.
Kesimpulannya, guru ideal? Memang ada!